Produktivitas dan Benefit dari Desain Ruang Kerja | Ubah Cara Kerjamu

Produktivitas dan Benefit dari Desain Ruang Kerja

Produktivitas dan Benefit dari Desain Ruang Kerja

Diperlukan metode khusus saat mendesain ruang kerja yang dianggap memiliki pengaruh terhadap produktivitas.

Sejumlah perusahaan menggunakan berbagai cara memotivasi pekerjanya dengan mengombinasikan berbagai kekhawatiran yang sering muncul dalam lingkungan kerja. Mulai dengan memberikan waktu kerja fleksibel, penambahan fasilitas permainan sederhana agar karyawan lebih rileks, hingga mengubah desain ruang dan meja kerja.

 

Desain ruang kerja itu bisa terlihat dari perbedaan saat memasuki perkantoran yang menggunakan konsep tradisional meja-meja cubicle dengan perusahaan yang menerapkan open space, konsep desain meja kerja tanpa sekat. Sederhananya dengan membandingkan desain perkantoran tradisonal dengan open space milik Google, misalnya.

Baca juga: Komunitas dan Industri 4.0 dalam Keseharian Kita

Data Robert Walters Whitepaper yang bertajuk Work Space Design Variable and Their Impact Productivity, Loyality, and Engagement mengungkapkan, 45 persen pekerja profesional lebih memilih konsep open space dalam kantor. Hanya 11 persen yang memilih konsep tradisional menggunakan meja-meja dengan cubicle.

Generasi Y atau millenial merupakan mayoritas tipe pekerja yang menyukai konsep open space untuk memaksimalkan kinerja mereka, sedangkan generasi X, serta generasi Baby Boomers lebih mengutamakan ruang kerja yang nyaman dengan mengombinasikan berbagai desain agar dapat fokus bekerja.

Data di atas menegaskan alasan sejumlah perusahaan mulai menggunakan konsep open space. Dari konsep itu diharapkan para karyawan bisa lebih banyak berinteraksi satu sama lain. Pertukaran informasi pun dapat terjadi sehingga mampu memunculkan ide-ide cemerlang, yang bisa memiliki manfaat besar bagi perusahaan.

Open space dan produktivitas

Universitas Harvard pernah melakukan riset terhadap 500 perusahaan yang berencana mengubah konsep ruang kerja mereka dengan menggunakan open space. Tujuan riset tersebut akan membandingkan bagaimana para karyawan perusahaan berinteraksi sebelum dan setelah menggunakan konsep desain baru.

Dua peneliti Harvard, Ethan Bernstein dan Stephen Turban, mengambil data dari total 150 peserta. Selama tiga pekan, sebelum dan sesudah perubahan desain, kedua peneliti tersebut memfokuskan terhadap aktivitas para peserta dengan menggunakan sensor khusus yang dipasang ke pakaian masing-masing pekerja di kantor. Selain itu, mereka juga mereview jumlah pesan singkat dan email masuk selama riset berlangsung.

Hasilnya pun menarik untuk dicermati. Mengacu terhadap hasil riset tersebut, yang juga dituangkan dalam jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B, ternyata interaksi antara pekerja jauh menurun. Pada saat bersamaan, justru aktivitas email masuk dan pesan singkat di telepon seluler antar pekerja meningkat drastis.

“Secara umum, aktivitas tatap muka menurun hampir 70 persen di antara para pekerja yang menjadi peserta. Sebaliknya, penggunaan email justru meningkat antara 22 persen hingga 50 persen, tergantung estimasi metode yang digunakan,” kata Christian Jarrett, dalam blog The British Psychological Society Research Digest, memaparkan hasil riset tersebut.

Baca juga: Mendesain Coworking Space untuk Semua Generasi

Penurunan interaksi itu secara tidak langsung mempengaruhi produktivitas. Dalam riset terungkap, petinggi perusahaan mengakui kalau produktivitas, yang dicatat berdasarkan sistem manajemen performa internal, pekerjanya memang menurun.

Bukan mimpi buruk

Dari hasil riset tersebut, bukan berarti konsep open space benar-benar menjadi mimpi buruk bagi para pekerja. Hal ini mengacu terhadap alasan karena pekerja pada dasarnya memiliki tipe berbeda-beda. Ada pekerja bertipe ekstrover, senang bergaul dan berdiskusi satu sama lain, hingga pekerja introver yang terkadang membutuhkan ruang tersendiri untuk fokus bekerja.

Oleh karenanya, konsep matang diperlukan saat mendirikan open space agar tujuan utama memaksimalkan produktivitas dan kreativitas pekerja bisa berjalan dengan baik dan benar. Para pekerja sederhananya pun akan memilih opsi terbaik dalam cara kerjanya masing-masing. Kita tentu tidak bisa memaksakan hal tersebut.

Join Our Newsletter


Selain itu, diperlukan juga misi jelas dari setiap penggunaan desain open space. Misalnya, Anda tidak bisa begitu saja menerangkan konsep open space secara umum, tanpa bisa memberikan benefit, nilai-nilai yang terkandung, serta jawaban mengapa karyawan dan pekerja perlu menghabiskan waktu bekerja di tempat tersebut.

Pengalaman David, salah satu petinggi perusahaan yang menerapkan konsep open space di Amerika Serikat, bisa menjadi contoh. Dalam artikel di Harvard Business Review edisi 11 Januari 2018, David mengatakan, “Ada beberapa hal yang kami pikir ide bagus, tetapi justru tidak bekerja saat mendesain konsep open space. Jadi, mari mengolaborasi antara tim dan pekerja lain yang harus bekerja di tempat berbeda.”

David menambahkan, salah satu hal penting adalah membiarkan pekerjanya memilih di mana mereka akan duduk dan setelah itu baru memindahkan barang-barangnya di meja kerja. “Ini akhirnya bekerja dengan sangat baik. Anda tidak perlu duduk terus bersama tim setiap minggu. Anda bisa ke tim lain untuk bekerja sama,” kata David.

Konsep open space juga bisa dipadukan dengan tren teknologi yang saat ini sedang berkembang pesat. Sebagai contoh, pada 2015, Amazon merilis Alexa, perangkat Artificial intelligence (AI) yang diprediksi menjadi salah satu inovasi pendukung perubahan gaya kerja masyarakat.

Pilihan terbaik

Banyak contoh, tidak hanya kehidupan sehari-hari, tetapi juga cara kita bekerja sudah dipengaruhi sedemikian besar dari berbagai inovasi teknologi tersebut. Untuk memaksimalkan produktivitas dan kreativitas pun diperlukan pilihan yang tepat dengan tipe pekerja.

Apabila Anda seorang pekerja yang menyukai berbagai teknologi digital, misalnya, konsep ruang kerja virtual pun diyakini bisa menjadi pilihan terbaik. Transformasi digital dalam dunia kerja merasuk ke berbagai dimensi, tidak hanya secara fisik, tetapi juga virtualisasi. Hal itulah yang pada akhirnya mendasari Fidelity Labs di Dublin menjadikan Virtual Reality sebagai faktor pendukung kinerja para karyawannya di kantor.

Sementara itu, jika Anda pekerja remote, teknologi pun tidak menjadi sesuatu yang akan sulit digunakan saat beraktivitas. Apalagi para pekerja remote bisa dikatakan memiliki peran besar dalam transformasi kantor, dari tradisional ke modern, yang satu di antaranya kemudian memunculkan konsep open space. Berdasar hal itulah, saat ini banyak pekerja remote menggunakan ruang-ruang terbuka untuk berkolaborasi satu sama lain.

Baca juga: Wanita dan Tren Coworking di Indonesia

“Hal terpenting adalah kita harus mulai memikirkan definisi dengan siapa kita ingin berkolaborasi. Kita juga perlu memulai memikirkan bagaimana cara kita berkolaborasi dengan seluruh ekosistem kerja yang Anda inginkan,” kata Adrienne Gormley, Global Head of Customer Experience Dropbox, seperti dilansir artikel siliconrepublic.com.

Dari beragam tipe dan konsep ruang kerja di atas pun memunculkan kesimpulan sederhana bahwa masa depan ruang kerja sejatinya bakal bergantung terhadap dukungan seluruh koneksi lingkungan kerja yang sudah tersedia. Anda hanya tinggal menentukan pilihan konsep apa yang cocok saat ingin mengubah cara kerja.

Facebook Comments

Next Read

Coworking: Masa Depan Bekerja atau Sekadar Tren Se... Apakah coworking akan menjadi tren bekerja pada masa depan, atau hanya bakal menjadi tren semata mengikuti perkembangan zaman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *